Bismillahirrahmaanirrahiim
Berbicara mengenai PT Freeport, maka pikiran
kita tidak lepas dari tambang emas yang ada di pulau paling kaya di dunia yakni
Papua. PT. Freeport McMoran yang mulai mengeksplorasi kekayaan alam di Papua
pada tahun 1967 hingga kini sudah 48 tahun. Akan tetapi selama 48 tahun itu
tidak ada kontribusi yang nyata dari mereka untuk memajukan negeri yang menjadi
tuan rumah yakni indonesia. Bahkan semakin tahun mereka semakin menjadi-jadi
dan seolah menjadi penguasa negeri ini dengan seenaknya saja melanggar berbagai
pajak, dan mengatur undang-undang seenaknya sendiri melalui agen-agen mereka. Mengapa
semua ini bisa terjadi? Maka berikut ini akan kami sampaikan problematikan dan
solusinya.
Sejarah PT. Freeport. (Penemuan Harta Karun
Terbesar di Dunia)
Dalam pembahasan sejarah kali ini, kami bukan
bermaksud menyajikan sejarah berdirinya PT. Freeport, akan tetapi sejarah
eksploitasi yang terjadi di tanah Papua.
Berawal dari
penemuan gunung yang umumnya disebut gunung tembaga, ditemukan oleh ahli
Belanda pada 1936, namanya Jean Jacques Dozy. Ke publik dia nyatakan itu gunung
tembaga. Tetapi ketika dikejar oleh Allen Welsh Dulles—Dulles itu kepala
intelijen Amerika (CIA) yang paling berpengaruh di kala itu--, Dozy mengakui
yang ditemukannya sebenarnya adalah gunung emas—meski tembaga pun melimpah di
sana. Itulah gunung yang
dinamai Ertsberg. Lalu ditemukan lagi gunung emas yang lima kali lebih besar
yang diberi nama Grasberg. Sejak Dulles mengetahui terdapat dua gunung
emas di Papua, maka dia berambisi menguasai pulau Papua. (Direktur Institut
Ekonomi Politik Soekarno Hatta (IEPSH) Hatta Taliwang - Media Umat Edisi
161)
Lisa Pease,
seorang penulis asal Amerika Serikat, membuat artikel menarik berjudul “JFK,
Indonesia, CIA & Freeport Sulphur”. Artikel heboh ini dimuat dalam Majalah
Probe, edisi Maret-April 1996. Kemudian, artikel ini disimpan di dalam National
Archive di Washington DC, Amerika Serikat.
Paling menarik, dalam artikelnya Lisa Pease menulis penjarahan Freeport atas gunung emas di Papua sudah dimulai sejak tahun 1967. Namun, kiprah Freeport sendiri di Indonesia sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya.
Freeport Sulphur, demikian nama perusahaan itu awalnya, nyaris bangkrut berkeping-keping ketika terjadi pergantian kekuasaan di Kuba tahun 1959. Saat itu Fidel Castro berhasil menghancurkan rezim diktator Batista. Oleh Castro, seluruh perusahaan asing di negeri itu dinasionalisasikan. Freeport Sulphur yang baru saja hendak melakukan pengapalan nikel produksi perdananya terkena imbasnya. Ketegangan terjadi. Berkali-kali CEO Freeport Sulphur merencanakan upaya pembunuhan terhadap Castro, namun selalu pula menemui kegagalan.
Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, pada Agustus 1959, Forbes Wilson yang menjabat sebagai Direktur Freeport Sulphur melakukan pertemuan dengan Direktur Pelaksana East Borneo Company, Jan van Gruisen.
Pada saat itu, Gruisen bercerita bahwa dirinya menemukan sebuah laporan penelitian atas Mountain Ersberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat yang ditulis Jean Jaques Dozy di tahun 1936. Uniknya, laporan itu sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan tersimpan selama bertahun-tahun begitu saja di Perpusatakaan Belanda. Van Gruisen tertarik dengan laporan penelitian yang sudah berdebu itu dan membacanya.
Dengan berapi-api, Van Gruisen bercerita kepada pimpinan Freeport Sulphur itu jika selain memaparkan tentang keindahan alamnya, Jean Jaques Dozy juga menulis tentang kekayaan alamnya yang begitu melimpah. Tidak seperti wilayah lainnya di seluruh dunia. Kandungan biji tembaga yang ada di Gunung Ersberg itu terhampar di atas permukaan tanah, jadi tidak tersembunyi di dalam tanah.
Mendengar hal itu, Wilson sangat antusias dan segera melakukan perjalanan ke Irian Barat untuk mengecek kebenaran cerita itu. Di dalam benaknya, jika kisah laporan ini benar, maka perusahaannya akan bisa bangkit kembali dan selamat dari kebangkrutan yang sudah di depan mata.
Selama beberapa bulan, Forbes Wilson melakukan survei dengan seksama atas Gunung Ersberg dan juga wilayah sekitarnya. Penelitiannya ini ditulisnya dalam sebuah buku berjudul The Conquest of Cooper Mountain. Wilson menyebut gunung tersebut sebagai harta karun terbesar yang untuk memperolehnya tidak perlu menyelam lagi. Karena semua harta karun itu telah terhampar di permukaan tanah.
Dari udara, tanah di sekujur gunung tersebut berkilauan ditimpa sinar matahari. Wilson juga mendapatkan temuan yang nyaris membuatnya gila. Karena selain dipenuhi bijih tembaga, gunung tersebut ternyata juga dipenuhi bijih emas dan perak! luar biasa.
Menurut Wilson, seharusnya gunung tersebut diberi nama Gold Mountain, bukan Ersberg Mountain atau Gunung Tembaga. Sebagai seorang pakar pertambangan, Wilson memperkirakan jika Freeport akan untung besar dan dalam waktu tiga tahun sudah kembali modal.
Pimpinan Freeport Sulphur ini pun bergerak dengan cepat. Pada 1 Februari 1960, Freeport Sulphur menekan kerjasama dengan East Borneo Company untuk mengeksplorasi gunung tersebut.
Namun lagi-lagi Freeport Sulphur mengalami kenyataan yang hampir sama dengan yang pernah dialaminya di Kuba. Perubahan eskalasi politik atas tanah Irian Barat tengah mengancam. Hubungan Indonesia dan Belanda telah memanas dan Soekarno malah mulai menerjunkan pasukannya di Irian Barat.
Tadinya Wilson ingin meminta bantuan kepada Presiden AS John Fitzgerald Kennedy agar mendinginkan Irian Barat. Namun ironisnya, JFK malah sepertinya mendukung Soekarno. Kennedy mengancam Belanda akan menghentikan bantuan Marshall Plan jika ngotot mempertahankan Irian Barat.
Belanda yang saat itu memerlukan bantuan dana segar untuk membangun kembali negerinya dari puing-puing kehancuran akibat Perang Dunia II terpaksa mengalah dan mundur dari Irian Barat.
Ketika itu, sepertinya Belanda tidak tahu jika Gunung Ersberg sesungguhnya mengandung banyak emas, bukan tembaga. Sebab jika saja Belanda mengetahui fakta sesungguhnya, maka nilai bantuan Marshall Plan yang diterimanya dari AS tidak ada apa-apanya dibanding nilai emas yang ada di gunung tersebut.
Dampak dari sikap Belanda untuk mundur dari Irian Barat menyebabkan perjanjian kerjasama dengan East Borneo Company mentah kembali. Para pimpinan Freeport jelas marah besar. Apalagi mendengar Kennedy akan menyiapkan paket bantuan ekonomi kepada Indonesia sebesar 11 juta AS dengan melibatkan IMF dan Bank Dunia. Semua ini jelas harus dihentikan.
Paling menarik, dalam artikelnya Lisa Pease menulis penjarahan Freeport atas gunung emas di Papua sudah dimulai sejak tahun 1967. Namun, kiprah Freeport sendiri di Indonesia sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya.
Freeport Sulphur, demikian nama perusahaan itu awalnya, nyaris bangkrut berkeping-keping ketika terjadi pergantian kekuasaan di Kuba tahun 1959. Saat itu Fidel Castro berhasil menghancurkan rezim diktator Batista. Oleh Castro, seluruh perusahaan asing di negeri itu dinasionalisasikan. Freeport Sulphur yang baru saja hendak melakukan pengapalan nikel produksi perdananya terkena imbasnya. Ketegangan terjadi. Berkali-kali CEO Freeport Sulphur merencanakan upaya pembunuhan terhadap Castro, namun selalu pula menemui kegagalan.
Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, pada Agustus 1959, Forbes Wilson yang menjabat sebagai Direktur Freeport Sulphur melakukan pertemuan dengan Direktur Pelaksana East Borneo Company, Jan van Gruisen.
Pada saat itu, Gruisen bercerita bahwa dirinya menemukan sebuah laporan penelitian atas Mountain Ersberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat yang ditulis Jean Jaques Dozy di tahun 1936. Uniknya, laporan itu sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan tersimpan selama bertahun-tahun begitu saja di Perpusatakaan Belanda. Van Gruisen tertarik dengan laporan penelitian yang sudah berdebu itu dan membacanya.
Dengan berapi-api, Van Gruisen bercerita kepada pimpinan Freeport Sulphur itu jika selain memaparkan tentang keindahan alamnya, Jean Jaques Dozy juga menulis tentang kekayaan alamnya yang begitu melimpah. Tidak seperti wilayah lainnya di seluruh dunia. Kandungan biji tembaga yang ada di Gunung Ersberg itu terhampar di atas permukaan tanah, jadi tidak tersembunyi di dalam tanah.
Mendengar hal itu, Wilson sangat antusias dan segera melakukan perjalanan ke Irian Barat untuk mengecek kebenaran cerita itu. Di dalam benaknya, jika kisah laporan ini benar, maka perusahaannya akan bisa bangkit kembali dan selamat dari kebangkrutan yang sudah di depan mata.
Selama beberapa bulan, Forbes Wilson melakukan survei dengan seksama atas Gunung Ersberg dan juga wilayah sekitarnya. Penelitiannya ini ditulisnya dalam sebuah buku berjudul The Conquest of Cooper Mountain. Wilson menyebut gunung tersebut sebagai harta karun terbesar yang untuk memperolehnya tidak perlu menyelam lagi. Karena semua harta karun itu telah terhampar di permukaan tanah.
Dari udara, tanah di sekujur gunung tersebut berkilauan ditimpa sinar matahari. Wilson juga mendapatkan temuan yang nyaris membuatnya gila. Karena selain dipenuhi bijih tembaga, gunung tersebut ternyata juga dipenuhi bijih emas dan perak! luar biasa.
Menurut Wilson, seharusnya gunung tersebut diberi nama Gold Mountain, bukan Ersberg Mountain atau Gunung Tembaga. Sebagai seorang pakar pertambangan, Wilson memperkirakan jika Freeport akan untung besar dan dalam waktu tiga tahun sudah kembali modal.
Pimpinan Freeport Sulphur ini pun bergerak dengan cepat. Pada 1 Februari 1960, Freeport Sulphur menekan kerjasama dengan East Borneo Company untuk mengeksplorasi gunung tersebut.
Namun lagi-lagi Freeport Sulphur mengalami kenyataan yang hampir sama dengan yang pernah dialaminya di Kuba. Perubahan eskalasi politik atas tanah Irian Barat tengah mengancam. Hubungan Indonesia dan Belanda telah memanas dan Soekarno malah mulai menerjunkan pasukannya di Irian Barat.
Tadinya Wilson ingin meminta bantuan kepada Presiden AS John Fitzgerald Kennedy agar mendinginkan Irian Barat. Namun ironisnya, JFK malah sepertinya mendukung Soekarno. Kennedy mengancam Belanda akan menghentikan bantuan Marshall Plan jika ngotot mempertahankan Irian Barat.
Belanda yang saat itu memerlukan bantuan dana segar untuk membangun kembali negerinya dari puing-puing kehancuran akibat Perang Dunia II terpaksa mengalah dan mundur dari Irian Barat.
Ketika itu, sepertinya Belanda tidak tahu jika Gunung Ersberg sesungguhnya mengandung banyak emas, bukan tembaga. Sebab jika saja Belanda mengetahui fakta sesungguhnya, maka nilai bantuan Marshall Plan yang diterimanya dari AS tidak ada apa-apanya dibanding nilai emas yang ada di gunung tersebut.
Dampak dari sikap Belanda untuk mundur dari Irian Barat menyebabkan perjanjian kerjasama dengan East Borneo Company mentah kembali. Para pimpinan Freeport jelas marah besar. Apalagi mendengar Kennedy akan menyiapkan paket bantuan ekonomi kepada Indonesia sebesar 11 juta AS dengan melibatkan IMF dan Bank Dunia. Semua ini jelas harus dihentikan.
Skenario jahat
pun dimulai, Allen Welsh Dulles yang merupakan agen CIA senior merencanakan pembunuhan terhadap
Presiden Kennedy, karena dianggap akan menghalangi mereka untuk menguasai Harta
Karun tersebut di Papua. Akhirnya melalui operasi intelijen, CIA membunuh
Kennedy pada 22 November 1963 saat kunjungan ke Dallas, Texas. Kuat dugaan
bahwa sampai akhir hayatnya Presiden Kennedy tidak mengetahui perihal adanya
gunung emas di Papua.
Segalanya berubah
seratus delapan puluh derajat ketika Presiden Kennedy tewas ditembak pada 22
November 1963. Presiden Johnson yang menggantikan Kennedy mengambil siap yang
bertolak-belakang dengan pendahulunya. Johnson malah mengurangi bantuan ekonomi
kepada Indonesia, kecuali kepada militernya.
Salah seorang tokoh di belakang keberhasilan Johnson, termasuk dalam kampanye pemilihan presiden AS tahun 1964, adalah Augustus C Long. Ia juga salah seorang anggota dewan direksi Freeport. Tokoh yang satu ini memang punya kepentingan besar atas Indonesia.
Selain kaitannya dengan Freeport, Long juga memimpin Texaco, yang membawahi Caltex (patungan dengan Standard Oil of California). Soekarno pada tahun 1961 memutuskan kebijakan baru kontrak perminyakan yang mengharuskan 60 persen labanya diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Caltex, sebagai salah satu dari tiga operator perminyakan di Indonesia jelas sangat terpukul oleh kebijakan Soekarno ini.
Augustus C Long amat marah terhadap Soekarno dan amat berkepentingan agar orang ini disingkirkan secepatnya. Mungkin suatu kebetulan yang ajaib. Augustus C Long juga aktif di Presbysterian Hospital, New York di mana dia pernah dua kali menjadi presidennya (1961-1962). Sudah bukan rahasia umum lagi jika tempat ini merupakan salah satu simpul pertemuan tokoh CIA.
Lisa Pease dengan cermat menelusuri riwayat kehidupan tokoh ini. Antara tahun 1964 sampai 1970, Long pensiun sementara sebagai pimpinan Texaco. Apa saja yang dilakukan orang ini dalam masa itu yang di Indonesia dikenal sebagai masa yang paling krusial.
Lisa mendapakan data jika pada Maret 1965, Augustus C Long terpilih sebagai Direktur Chemical Bank, salah satu perusahaan Rockefeller. Agustus 1965, Long diangkat menjadi anggota dewan penasehat intelijen kepresidenan AS untuk masalah luar negeri.
Badan ini memiliki pengaruh sangat besar untuk menentukan operasi rahasia AS di negara-negara tertentu. Long diyakini salah satu tokoh yang merancang kudeta terhadap Soekarno, yang dilakukan AS dengan menggerakkan sejumlah perwira Angkatan Darat yang disebutnya sebagai “our local army friend”.
Salah satu bukti adalah sebuah telegram rahasia Cinpac 342, 21 Januari 1965, pukul 21.48, yang menyatakan ada kelompok Jenderal Suharto yang akan mendesak angkatan darat agar mengambil-alih kekuasaan tanpa menunggu Soekarno berhalangan. Mantan pejabat CIA Ralph Mc Gehee juga pernah bersaksi jika hal itu benar adanya.
Salah seorang tokoh di belakang keberhasilan Johnson, termasuk dalam kampanye pemilihan presiden AS tahun 1964, adalah Augustus C Long. Ia juga salah seorang anggota dewan direksi Freeport. Tokoh yang satu ini memang punya kepentingan besar atas Indonesia.
Selain kaitannya dengan Freeport, Long juga memimpin Texaco, yang membawahi Caltex (patungan dengan Standard Oil of California). Soekarno pada tahun 1961 memutuskan kebijakan baru kontrak perminyakan yang mengharuskan 60 persen labanya diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Caltex, sebagai salah satu dari tiga operator perminyakan di Indonesia jelas sangat terpukul oleh kebijakan Soekarno ini.
Augustus C Long amat marah terhadap Soekarno dan amat berkepentingan agar orang ini disingkirkan secepatnya. Mungkin suatu kebetulan yang ajaib. Augustus C Long juga aktif di Presbysterian Hospital, New York di mana dia pernah dua kali menjadi presidennya (1961-1962). Sudah bukan rahasia umum lagi jika tempat ini merupakan salah satu simpul pertemuan tokoh CIA.
Lisa Pease dengan cermat menelusuri riwayat kehidupan tokoh ini. Antara tahun 1964 sampai 1970, Long pensiun sementara sebagai pimpinan Texaco. Apa saja yang dilakukan orang ini dalam masa itu yang di Indonesia dikenal sebagai masa yang paling krusial.
Lisa mendapakan data jika pada Maret 1965, Augustus C Long terpilih sebagai Direktur Chemical Bank, salah satu perusahaan Rockefeller. Agustus 1965, Long diangkat menjadi anggota dewan penasehat intelijen kepresidenan AS untuk masalah luar negeri.
Badan ini memiliki pengaruh sangat besar untuk menentukan operasi rahasia AS di negara-negara tertentu. Long diyakini salah satu tokoh yang merancang kudeta terhadap Soekarno, yang dilakukan AS dengan menggerakkan sejumlah perwira Angkatan Darat yang disebutnya sebagai “our local army friend”.
Salah satu bukti adalah sebuah telegram rahasia Cinpac 342, 21 Januari 1965, pukul 21.48, yang menyatakan ada kelompok Jenderal Suharto yang akan mendesak angkatan darat agar mengambil-alih kekuasaan tanpa menunggu Soekarno berhalangan. Mantan pejabat CIA Ralph Mc Gehee juga pernah bersaksi jika hal itu benar adanya.
Setelah itulah
masa-masa yang paling krusial makin menjadi-jadi. Dengan operasi intelijen
CIA yang sekarang kita kenal G 30 S PKI, kian melambungkan nama Soeharto dan
menjatuhkan Soekarno. Lalu Soeharto jadi presiden. Baru saja jadi presiden,
pada akhir Nopember 1967, Soeharto mengirim tim ekonomi ke Jenewa. Tim ekonomi
tersebut dipimpin Sri Sultan, Adam Malik, Widjojo Nitisastro, yang belakangan
disebut sebagai Mafia Berkeley.
Mereka ikut forum tingkat
tinggi para pemilik modal atau para kapitalis global. Pemimpin pertemuan itu
Rockefeller, kapitalis terkaya sedunia, mengajak teman-temannya berkumpul
dengan mafia Berkeley tersebut. Bahasa yang digunakan, menurut Pak Kwik Kian
Gie, bahwa Rockefeller seakan teriak ke teman-temannya, “Hore teman-teman, ini ada
tangkapan besar...”
“Tangkapan besar” yang
dimaksud adalah Indonesia yang sudah jatuh dan tidak dalam kekuasaan Soekarno
lagi. Kejatuhan Soekarno inilah yang membuat para kapitalis global,
membagi-bagi kekuasaan di Indonesia untuk ekonomi. Misalnya, Jepang kebagian
hutan-hutan di Kalimantan dan Sumatera; Prancis dapat Blok Mahakam; dan
lainnya, termasuk gunung emas di Papua diurus oleh Amerika dengan kontrak karya
yang sangat merugikan. Semenjak saat itulah dimulai malapetaka bagi bangsa
Indonesia....
INDONESIA HANYA GIGIT JARI
Dari tahun ke tahun Freeport
terus mereguk keuntungan dari tambang emas, perak, dan tembaga terbesar di
dunia. Para petinggi Freeport terus mendapatkan fasilitas, tunjangan dan
keuntungan yang besarnya mencapai 1 juta kali lipat pendapatan tahunan penduduk
Timika, Papua. Keuntungan Freeport tak serta merta melahirkan kesejahteraan
bagi warga sekitar. Kondisi wilayah Timika bagai api dalam sekam, tidak ada
kondisi stabil yang menjamin masa depan penduduk Papua.
Penandatanganan
Kontrak Karya (KK) I pertambangan antara pemerintah Indonesia dengan Freeport
pada 1967, menjadi landasan bagi perusahaan ini mulai melakukan aktivitas
pertambangan. Tak hanya itu, KK ini juga menjadi dasar penyusunan UU
Pertambangan Nomor 11/1967, yang disahkan pada Desember 1967 atau delapan bulan
berselang setelah penandatanganan KK.
Pada
Maret 1973, Freeport memulai pertambangan terbuka di Ertsberg, kawasan yang
selesai ditambang pada tahun 1980-an dan menyisakan lubang sedalam 360 meter.
Pada tahun 1988, Freeport mulai mengeruk cadangan raksasa lainnya, Grasberg,
yang masih berlangsung saat ini. Dari eksploitasi kedua wilayah ini, sekitar
7,3 juta ton tembaga dan 724, 7 juta ton emas telah mereka keruk. Pada bulan
Juli 2005, lubang tambang Grasberg telah mencapai diameter 2,4 kilometer pada
daerah seluas 499 ha dengan kedalaman 800m. Diperkirakan terdapat 18 juta ton
cadangan tembaga, dan 1.430 ton cadangan emas yang tersisa hingga rencana
penutupan tambang pada 2041.
Aktivitas
Freeport yang berlangsung dalam kurun waktu lama ini telah menimbulkan berbagai
masalah, terutama dalam hal penerimaan negara yang tidak optimal, peran
negara/BUMN untuk ikut mengelola tambang yang sangat minim, bahkan parahnya
lagi pemerintah hanya memiliki saham senilai 9,36 %, sedangkan saham PT.
Freeport sebesar 90,64%. Sungguh memilukan.
Dampak lingkungan juga sangat
signifikan, berupa rusaknya bentang alam pegunungan Grasberg dan Erstberg.
Kerusakan lingkungan telah mengubah bentang alam seluas 166 km persegi di
daerah aliran sungai Ajkwa.
Permasalahan
Freeport
mengelola tambang terbesar di dunia di berbagai negara, yang didalamnya
termasuk 50% cadangan emas di kepulauan Indonesia. Namun, sebagai hasil
eksploitasi potensi tambang tersebut, hanya sebagian kecil pendapatan yang yang
masuk ke kas negara dibandingkan dengan miliaran US$ keuntungan yang diperoleh
Freeport. Kehadiran Freeport pun tidak mampu menyejahterakan masyarakat di
sekitar wilayah pertambangan, namun berkontribusi sangat besar pada
perkembangan perusahaan asing tersebut.
Pada
tahun 1995 Freeport baru secara’resmi mengakui menambang emas di Papua.
Sebelumnya sejak tahun 1973 hingga tahun 1994, Freeport mengaku hanya sebagai
penambang tembaga. Jumlah volume emas yang ditambang selama 21 tahun tersebut
tidak pernah diketahui publik, bahkan oleh orang Papua sendiri. Panitia Kerja
Freeport dan beberapa anggota DPR RI Komisi VII pun mencurigai telah terjadi
manipulasi dana atas potensi produksi emas Freeport. Mereka mencurigai
jumlahnya lebih dari yang diperkirakan sebesar 2,16 hingga 2,5 miliar ton emas.
DPR juga tidak percaya atas data kandungan konsentrat yang diinformasikan
sepihak oleh Freeport. Anggota DPR berkesimpulan bahwa negara telah dirugikan
selama lebih dari 30 tahun akibat tidak adanya pengawasan yang serius. Bahkan
Departemen Keuangan melalui Dirjen Pajak dan Bea Cukai mengaku tidak tahu pasti
berapa produksi Freeport berikut penerimaannya.
Di sisi
lain, pemiskinan juga berlangsung di wilayah Mimika, yang penghasilannya hanya
sekitar $132/tahun, pada tahun 2005. Kesejahteraan penduduk Papua tak secara
otomatis terkerek naik dengan kehadiran Freeport yang ada di wilayah mereka
tinggal. Di wilayah operasi Freeport, sebagian besar penduduk asli berada di
bawah garis kemiskinan dan terpaksa hidup mengais emas yang tersisa dari limbah
Freeport. Selain permasalahan kesenjangan ekonomi, aktivitas pertambangan
Freeport juga merusak lingkungan secara masif serta menimbulkan pelanggaran
HAM.
Timika
bahkan menjadi tempat berkembangnya penyakit mematikan seperti HIV/AIDS dan
jumlah tertinggi penderita HIV/AIDS berada di Papua. Keberadaan Freeport juga
menyisakan persoalan pelanggaran HAM yang terkait dengan tindakan aparat
keamanan Indonesia di masa lalu dan kini. Ratusan orang telah menjadi korban
pelanggaran HAM berat bahkan meninggal dunia tanpa kejelasan. Hingga kini,
tidak ada satu pun pelanggaran HAM yang ditindaklanjuti serius oleh pemerintah
bahkan terkesan diabaikan.
Pemiskinan di Papua
Kegiatan
penambangan dan ekonomi Freeport telah mencetak keuntungan finansial bagi
perusahaan tersebut namun tidak bagi masyarakat lokal di sekitar wilayah
pertambangan. Dari tahun ke tahun Freeport terus mereguk keuntungan dari
tambang emas, perak, dan tembaga terbesar di dunia. Pendapatan utama Freeport
adalah dari operasi tambangnya di Indonesia (sekitar 60%, Investor Daily, 10
Agustus 2009). Setiap hari hampir 700 ribu ton material dibongkar untuk
menghasilkan 225 ribu ton bijih emas. Jumlah ini bisa disamakan dengan 70 ribu
truk kapasitas angkut 10 ton berjejer sepanjang Jakarta hingga Surabaya
(sepanjang 700 km).
Para
petinggi Freeport mendapatkan fasilitas, tunjangan dan keuntungan yang besarnya
mencapai 1 juta kali lipat pendapatan tahunan penduduk Timika, Papua.
Keuntungan Freeport tak serta merta melahirkan kesejahteraan bagi warga
sekitar. Di sisi lain, negara pun mengalami kerugian karena keuntungan Freeport
yang masuk ke kas negara sangatlah kecil jika dibandingkan keuntungan total
yang dinikmati Freeport.
Keberadaan
Freeport tidak banyak berkontribusi bagi masyarakat Papua, bahkan pembangunan
di Papua dinilai gagal. Kegagalan pembangunan di Papua dapat dilihat dari
buruknya angka kesejahteraan manusia di Kabupaten Mimika. Penduduk Kabupaten
Mimika, lokasi di mana Freeport berada, terdiri dari 35% penduduk asli dan 65%
pendatang. Pada tahun 2002, BPS mencatat sekitar 41 persen penduduk Papua dalam
kondisi miskin, dengan komposisi 60% penduduk asli dan sisanya pendatang. Pada
tahun 2005, Kemiskinan rakyat di Provinsi Papua, yang mencapai 80,07% atau 1,5
juta penduduk.
Hampir
seluruh penduduk miskin Papua adalah warga asli Papua. Jadi penduduk asli Papua
yang miskin adalah lebih dari 66% dan umumnya tinggal di pegunungan tengah,
wilayah Kontrak Karya Frepoort. Kepala Biro Pusat Statistik propinsi Papua JA
Djarot Soesanto, merelease data kemiskinan tahun 2006, bahwa setengah penduduk
Papua miskin (47,99 %).
Di sisi
lain, pendapatan pemerintah daerah Papua demikian bergantung pada sektor
pertambangan. Sejak tahun 1975-2002 sebanyak 50% lebih PDRB Papua berasal dari
pembayaran pajak, royalti dan bagi hasil sumberdaya alam tidak terbarukan,
termasuk perusahaan migas. Artinya ketergantungan pendapatan daerah dari sektor
ekstraktif akan menciptakan ketergantungan dan kerapuhan yang kronik bagi
wilayah Papua.
Pendapatan
Domestik Bruto (PDB) Papua Barat memang menempati peringkat ke 3 dari 30
propinsi di Indonesi pada tahun 2005. Namun Indeks Pembangunan Manusi (IPM)
Papua, yang diekspresikan dengan tingginya angka kematian ibu hamil dan balita
karena masalah-masalah kekurangan gizi berada di urutan ke-29. Lebih parah
lagi, kantong-kantong kemiskinan tersebut berada di kawasan konsesi
pertambangan Freeport.
Selain
itu, situs tambang Freeport di puncak gunung berada pada ketinggian 4.270
meter, suhu terendah mencapai 2 derajat Celcius. Kilang pemrosesan berada pada
ketinggian 3.000 m, curah hujan tahuan di daerah tersebut 4.000-5.000 mm,
sedangkan kaki bukit menerima curah hujan tahunan lebih tinggi, 12.100 mm dan
suhu berkisar 18-30 derajat Celcius. Dengan kondisi alam seperti ini, kawasan
di bawah areal pertambangan Freeport mempunyai tingkat kerawanan tinggi
terhadap bencana tanah longsor. Pada 9 Oktober 2003, terjadi longsor di bagian
selatan area tambang terbuka Grasberg, menewaskan 13 orang karyawan Freeport.
Walhi merelease longsor terjadi akibat lemahnya kepedulian Freeport terhadap
lingkungan. Padahal, mereka mengetahui lokasi penambangan Grasberg adalah
daerah rawan bencana akibat topografi wilayah serta tingginya curah hujan.
Jebolnya dam penampungan tailing di Danau Wanagon pada tahun 2000, menyebabkan
tewasnya empat pekerja sub-kontraktor Freeport. Terjadi longsor di lokasi
pertambangan Grasberg pada Kamis, 9 Oktober 2003. (Dari berbagai sumber)